Archive for February, 2008

Kangen!!!

Saturday, February 9th, 2008

Kangen!!!

 

Entah
mengapa kata itu selalu terbersit hari ini (Sabtu 09/02). Harusnya kata itu aku
simpan dalam-dalam. “Kamu harus sabar Gie, ini demi cita-cita dan kemajuan
dirimu,” ujar hati ini. Tetapi rasa kangen tersebut tidak dapat
disembunyikannya. Aku baru pertama kali jauh dari orang-orang yang ku
sayangi. Awalnya tidak ku terlalu
pikirkan rasa itu, tetapi semakin lupakan rasa kangen ini, semakin kuat juga ia
mengusik hati ku.

Ingin
tubuh ini terbang sekejap dan menemui oarang-oarang yang aku sayangi. Mama,
papa, adik, kakak dan orang yang paling aku sayangi, ingin rasanya tubuh ini
didekat mereka. Tapi apa daya, semua rasa itu harus aku pendam dan simpan
dalam-dalam.

Pagi
hari ini mendung menggelayuti langit Kota Banjar. Mendung itu pula seperti
halnya hati ini. Sepertinya tubuh ini tidak ingin melakukan apa-apa. Ingin
rasanya tetap tertidur di tempat tidur dan mengingat masa-masa bersama keluarga
dan orang yang paling berarti dihidup ini. Hampir satu minggu, aku tidak
terlalu mempermasalahkan rasa kangen ini. Aku isi dengan kegiatan-kegiatan yang
bakal melupakan rasa itu. Tetapi hari ini!, rasa itu semakin kuat mendera hati
ini. Ingin rasanya berlari dan keluar dari kenyataan, tapi itu tidak mungkin.
Masa ini harus aku lalui dengan seorang diri dibantu dengan dorongan semangat
dari mereka yang Aku sayangi.

Terlebih
saat kejadian pada Jum’at pagi. Tiba-tiba saja handphone yang aku letakan
diatas meja berdering. Aku lihat nomor yang muncul ialah nomor telepon rumahku.
“Ada apa yah?” pikir ku. Tak lama, suara diseberang sana tiba-tiba saja
mengejutkan hati ini. Ya, suara diseberang sana ternyata mamaku. Ia tiba-tiba
saja menanyakan kabar ku dengan diiringi tangis tanda rasa kangen yang sangat
berat. “Gie kamu enggak apa-apa disana, malam tadi mama mimpi dan takut kamu
terjadi apa-apa disana,” tanyanya sambil menangis lirih. Aku yang menerima telepon pun berusaha tegar
dan berkata, “Saya disini baik-baik saja, jangan khawatirkan saya,” ucapku
dengan tegar untuk menguatkan hati ibuku. Anak mana yang tidak sedih ketika
mendengar ibunya menangis menanyakan keadaannnya.

Ah….
rasa ini harus aku hadapi memang. Tidak dapat aku pungkiri, rasa ini memang
berat untuk dihadapi. Namun bagaimana pun juga rasa kangen itu selalu muncul setiap saat. Apalagi hari ini, porsi
liputan saya sedikit. Waktu luang saya habiskan di kostan, tetapi bertubi-tubi
juga rasa kangen itu mendera hati ini.

Satu-satunya
yang dapat mengobati rasa kangen itu hanyalah membuat catatan ini.
Mudah-mudahan ini menjadi pengobat rasa kangen yang hebat mendera itu. Untuk
kalian orang-orang yang Aku sayangi, doakanlah selalu mudah-mudahan
moment-moment seperti ini akan segera berakhir dan kita berkumpil lagi.
Amien….

 

Banjar,
Sabtu petang, 9 Febuari 2008.

Tugas Pertama

Tuesday, February 5th, 2008

Ini mungkin tugas pertama saya
yang jauh dari rumah serta orang-orang yang saya sayangi. Tugas ini jugalah
yang pertama untuk saya ditempatkan di suatu daerah dalam waktu lumayan lama.
Walaupun tugas pertama, tetapi saya tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini
untuk menjalankannya dengan baik dan sungguh-sunggu.

Kebetulan,
sejak hari Kamis (31/01) saya resmi bergabung dengan Koran Seputar Indonesia
(Sindo), salasatu medi di Grup MNC. Sejak hari itulah sebuah keputusan di ambil
oleh perusahaan untuk menugaskan saya di sebuah kota di Priangan Timur yaitu
Kota Banjar. Ehmmm, kota yang baru untuk saya. Jangankan hafal dengan isu yang
tengah berkembang disana, nama jalan pun saya belum hafal semuanya. Namun, dari
sinilah saya mulai, dari kota kecil inilah karir saya di salahsatu media
nasional dimulai.

Sebelum
berangkat tugas, tentu saya meminta ijin terlebih dahulu kepada seua orang yang
saya sayangi. Mereka pun seolah berat melepas saya untuk bekerja di kota lain.
Tetapi harus bagaimana lagi, keputusan sudah saya ambil dan resiko pun harus
saya jalani dengan ikhlas dan sabar.

Dengan
sebuah syukuran kecil-kecilan yang menandakan tanda syukur kepata Allah SWT.
Orang tua pun menggelar syukuran pada Sabtu (02/02), mereka berucap syukur
salahsatu anaknya telah lulus dalam menempuh pendidikannya dan saat ini dia
telah diterima dan bekerja di media nasional.

Moment
ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya, hal ini dikarenakan salahsatu
kewajiban saya terhadap orangtua sudah selesai dengan merampungkan semua
prosesi pendidikan yang puncaknya pemasangan sebuah toga yang menandakan saya
lulus. Tetapi dua kebanggaan itu sedikit menjadi beban tersendiri bagi mereka,
hal ini dikarenakan saya harus meninggalkan mereka demi tugas yang saya emban.

Tiba
di Kota Banjar sedikit mengerutkan kening, Kota ini berbeda jauh dengan Kota
Bandung. Dimana lalu lintasnya sudah awut-awutan serta kemacetan dimana-mana
membuat tingkat kestressan semakin meningkat. Namun di kota ini berbeda, lalu
lintasnya sediki lenggang dan pengendaranya pun sopan-sopan. Mereka benar-benar
menghormati peraturan, tidak terlihat pelanggaran yang dilakukan mereka.
Walaupun kota kecil, saya tidak melihat contoh yang buruk seperti tidak memakai
helm atau berkendaraan dengan ugal-ugalan. Contoh lainnya ialah, saat di lampu
merah, batas zebra cross pun tidak
mereka injak. Berbeda dengan di Bandung, para pengendara seolah-olah berlomba
ingin paling terdepan layaknya sebuat start di perlombaan balap motor.

Petugas
kepolisian pun lebih santai dan mereka selalu siaga di posnya yang ada di
setiap perermpatan dan persimpangan jalan. Sungguh kota yang tertib, bagi saya
yang baru menginjaknya dan akan mulai mencari sesuap nasi.

 

Gie, sebuah catatan perjalanan ……

Jadi kangen ma yang dirumah semua…..

Banjar, 4 Febuari 2008