Catatan si Koelitinta (Bobolokotan)
Hari yang Melelahkan
Sekitar pukul 07.15, gw dah keluar rumah menuju Kota Cimahi dengan jadwal ngeliput acara PLN APJ Cimahi. Ditengah jalan redaktur halaman sms untuk ngeliput acara wisudaan, biasalah berhubungan dengan pemasaran ma iklan. Nunggu bentar, sektar 20 menit, bagian iklan datang dan langsung cabut ke STIKES Unjani. Disana ane gw gak lama, langsung cabut menuju acara PLN di Jl Baros, Cimahi. Acara pun berjalan mulus hingga pukul 10.00. Hampir satu jam lebih, ngobrol di Pokja Polresta Cimahi sampe makan soto ayam segala.
Tiba-tiba usai makan dan ngumpul di Pokja, salah satu hape rekan kita, Haszmir bunyi dan mengabarkan ada longsor di Desa Cilutung, Citatah, KBB dengan banyak korban bergelimpang. Otomatis, kita langsung beberes dan cabut dari Pokja menuju TKP. Ditengah jalan sempet ngehubungi yang punya wilayah liputan KBB, sodara Bowo. Dengan cueknya di menjawab, saya lagi di Lembang, itumah urusan wartawan kepolisian. Gendoklah, bagian 86 jadi koordinator, bagian TKP dngan jarak lumayan jauh melimpahkan dengan seenaknya.
Akhinya gw terima, perjalanan pun dimulai dengan nyasar-ngasar, setelah dua kali bolak-balik Citatah-Padalarang, akhirnya ditemukan titik masuk ke arah TKP. Hampir satu jaman lebih, kita menyusuri dan melewati beberapa gunung kapur dengan kontur jalan naik turun. Jangan ditanya tuh jalan bagus, sebagus-bagusnya juga kagak bakalan diaspal. Otomatis si jalan hanya dilapisis batu-batu kerikil ditambah potongan-potongan batu marmer.
Oh ya, kita berangkat hampir sembilan personil ane absen yah, gw sendiri dari Radar Bandung, Feri Tribun Jabar, Hazmir PR, Dikky Gala, Deni PJ TV, Bu Amel RRI, Ono Sindo, Kang Kiki, Kang Aji Elsinta, dan Wahyu TPI.
Sepanjang jalan kita tanya penduduk tidak ada yang tahu tentang longsor atau bencana lainnya. Tapi mereka hanya bilang ada juga korban tenggelam di bekas galian pasir. Sekitar pukul 13,30, kita nyampe TKP yang memang seperti kolam besar dengan diameter sekitar 25X40 meteran. Setelah ambil data seperlunya, langsung menuju rumah duka sekitar 800 meter dari tkp. Kesialan berikutnya yaitu saat menuju rumah korban yang harus melalui bukit dengan tanah merah, hujan pun turun dengan derasnya. Hampir 20 menit berada di rumah korban. Kita langsung kembali. Tapi hujan yang turun dengan derasnya membuat tanah merah yang tadi dilewati menjadi licin dan terbawa oleh ban motor. Otomatis…baru beberapa meter jalan, ban dan spakbor motor sudah dipenuhi tanah.
Hanya 20 meter menjelang jalan raya, tiba-tiba motor tidak bisa dipake karena tanah membuat laju ban tertahan. Otomatis lagi, si motor didorong rame-rame sama mang Feri dan mang Ono.
Sampe dijalan, kerjaan tambahan pun menanti dengan mncongkel tnah yang menghalangi maju ban. Hampir 20 menit berkutat dengan tanah yang mengganggu. Beres semua, kita kemabali berkumpul dan melanjutkan pulang sekitar pukul 15.00. Dengan baju dan motor penuh dengan tanah merah kita kembali ke Bandung. So pasti sepanjang perjalanan pengendara memandang "aneh" dengan keadaan kita.
Tiba di Bandung pukul 16.00, langsung jemput nyonya di IBCC dan langsung ke rumah Shinta untuk nengok sepupu kita Fathur yang baru masuk RS. Tapi malu dong dengan keadaan motor yang penuh tanaha merah, jadi aja mampir ke tempat pencucian motor. Setelah disemprot, tuh tanaha yang turun banyak banget. Ampir-ampir kit ber2 juga heran dan kaget. Terlebih saat bayar dikasir, tuh motor yang kucel dipenuh tanah Citatah hanya dihargai 5 rebu perak, murah amat kan. beruntng dimasukin ke tempat pencucian motor, gak kebayang kalo cuci sendiri……
Wah benar-benar hari yang melelahkan………
Baleendah, 23;43
Catatan si Koelitinta