Bandung , Saya Kembali!!!

May 16th, 2008 by gie-santacruz

Rabu(14/05), pukul 19.00 handphone berdering, tertera sebuah nomor fren
yang belum aku simpan dalam phone book. Suara diujung sana yang samar-samar
rada saya kenal tiba-tiba saja menyapa. “Kumaha damang, keur naon euy?” tanya
suara diseberang sana. Awalnya, saya tidak mengenali suara tersebut. Tetapi
lama-lama, akhirnya dikenali juga. Yogi Pasha, coordinator liputan biro Jabar
rupanya yang menyapa.

Tiba-tiba saja dirinya memberitahukan kabar yang menggembirakan. “Gie
hayang ka Bandung deui teu (Gie, mau ke Bandung lagi gak, red)?,” tanyanya.
“Emang kunaon kitu bos (memang kenapa gitu bos, red)?” tanya saya. Yogi pun
mengatakan ada kabar gembira untuk saya.
“Selamat, ente kembali ke Bandung sesuai dengan yang diharapkan bukan,” ucapnya.

Ia pun langsung memberitahukan untuk segera berkemas semua barang yang
ada di kostan. “Pokoknya Sabtu (16/05) nanti sudah ada di Bandung,” tegasnya.
Tawaran sekaligus amanat itu langsung saya terima dan jalani. Ya, karena saya
memang karyawan yang harus menjalani semua perintah ataupun mandat yang
dikeluarkan oleh perusahaan atau atasan.

Setelah menerima kabar tersebut, langsung saja orang yang pertama
dihubungi tentu calon istri. “Alhamdulillah, saya ditarik ke Bandung lagi dan
mulai Sabtu kita bisa sama-sama,” curhat saya padanya. Selain itu, kabar
tersebut juga saya bagi kepada kedua orangtua di Bandung. “Akhirnya kantor
menarik saya untuk kembali ke Bandung,” ungkap saya kepada Ayah di Bandung.
Kabar itu menjadi kabar gembira bagi keluarga karena bisa berkumpul kembali
dengan mereka.

Ditariknya saya ke Bandung juga langsung saya kabarkan ke yang punya
kost. Serta beberapa tukang ojeg depan kostan yang telah menjadi teman saya
selama di Banjar. Bahkan salahsatu dari mereka, Mang Ade yang juga bekerja
sebagai loper koran yang setiap hari mengatarkan SINDO ke kostan ikut
memmbantu. Dia membantu saya mengepak barang-barang sehingga mudah dibawa oleh
travel.

Beberapa rekan seperjuangan di Banjar pun sudah saya kabari mengenai
ditariknya ke Bandung. Mereka mensuport saya tidak henti-henti. Bahkan saya pun
mengucapkan terima kasih kepada mereka yang senantiasa membantu dalam
menjalankan setiap tugas yang saya emban.

Tidak terasa hampir tiga bulan lebih, saya bertugas di Banjar. Saya yang
pertama tidak mengenal Kota Banjar yang hanya tahu saat melintasi hendak ke
Pangandaran ataupun Jawa Tengah. Akhirnya bisa mengetahui seluk beluk serta
kehidupan disana. Bahkan denyutnya pun terasa seolah-olah sudah bertahun-tahun
tinggal di Banjar. Suasana dan hawa yang panas sudah melekat serta mejadi menu
sehari-hari.

Mungkin inilah konsekwensi saya menjadi seorang jurnalis yang siap
ditugaskan dimanapun dan kapan pun dalam situasa bagaimana pun. Saya menikmati
itu. Entah kota atau kabupaten mana yang nanti akan ku singgahi. Mungkin
sehari, sebulan, setahun ataupun bertahun-tahun menetap di kota tersebut, saya
siap.

Hanya kalimat ini yang bisa saya ucapkan, “Bandung, Saya Kembali!!!”
Kembali pada kehidupan biasanya, kembali pada rutinitas biasanya, kembali pada
kesibukan-kesibukan yang tidak berhenti.

 

Banjar, Rabu Tengah Malam (14/05)

 

Gie, seseorang yang tak berarti…..

Kangen!!!

February 9th, 2008 by gie-santacruz

Kangen!!!

 

Entah
mengapa kata itu selalu terbersit hari ini (Sabtu 09/02). Harusnya kata itu aku
simpan dalam-dalam. “Kamu harus sabar Gie, ini demi cita-cita dan kemajuan
dirimu,” ujar hati ini. Tetapi rasa kangen tersebut tidak dapat
disembunyikannya. Aku baru pertama kali jauh dari orang-orang yang ku
sayangi. Awalnya tidak ku terlalu
pikirkan rasa itu, tetapi semakin lupakan rasa kangen ini, semakin kuat juga ia
mengusik hati ku.

Ingin
tubuh ini terbang sekejap dan menemui oarang-oarang yang aku sayangi. Mama,
papa, adik, kakak dan orang yang paling aku sayangi, ingin rasanya tubuh ini
didekat mereka. Tapi apa daya, semua rasa itu harus aku pendam dan simpan
dalam-dalam.

Pagi
hari ini mendung menggelayuti langit Kota Banjar. Mendung itu pula seperti
halnya hati ini. Sepertinya tubuh ini tidak ingin melakukan apa-apa. Ingin
rasanya tetap tertidur di tempat tidur dan mengingat masa-masa bersama keluarga
dan orang yang paling berarti dihidup ini. Hampir satu minggu, aku tidak
terlalu mempermasalahkan rasa kangen ini. Aku isi dengan kegiatan-kegiatan yang
bakal melupakan rasa itu. Tetapi hari ini!, rasa itu semakin kuat mendera hati
ini. Ingin rasanya berlari dan keluar dari kenyataan, tapi itu tidak mungkin.
Masa ini harus aku lalui dengan seorang diri dibantu dengan dorongan semangat
dari mereka yang Aku sayangi.

Terlebih
saat kejadian pada Jum’at pagi. Tiba-tiba saja handphone yang aku letakan
diatas meja berdering. Aku lihat nomor yang muncul ialah nomor telepon rumahku.
“Ada apa yah?” pikir ku. Tak lama, suara diseberang sana tiba-tiba saja
mengejutkan hati ini. Ya, suara diseberang sana ternyata mamaku. Ia tiba-tiba
saja menanyakan kabar ku dengan diiringi tangis tanda rasa kangen yang sangat
berat. “Gie kamu enggak apa-apa disana, malam tadi mama mimpi dan takut kamu
terjadi apa-apa disana,” tanyanya sambil menangis lirih. Aku yang menerima telepon pun berusaha tegar
dan berkata, “Saya disini baik-baik saja, jangan khawatirkan saya,” ucapku
dengan tegar untuk menguatkan hati ibuku. Anak mana yang tidak sedih ketika
mendengar ibunya menangis menanyakan keadaannnya.

Ah….
rasa ini harus aku hadapi memang. Tidak dapat aku pungkiri, rasa ini memang
berat untuk dihadapi. Namun bagaimana pun juga rasa kangen itu selalu muncul setiap saat. Apalagi hari ini, porsi
liputan saya sedikit. Waktu luang saya habiskan di kostan, tetapi bertubi-tubi
juga rasa kangen itu mendera hati ini.

Satu-satunya
yang dapat mengobati rasa kangen itu hanyalah membuat catatan ini.
Mudah-mudahan ini menjadi pengobat rasa kangen yang hebat mendera itu. Untuk
kalian orang-orang yang Aku sayangi, doakanlah selalu mudah-mudahan
moment-moment seperti ini akan segera berakhir dan kita berkumpil lagi.
Amien….

 

Banjar,
Sabtu petang, 9 Febuari 2008.

Tugas Pertama

February 5th, 2008 by gie-santacruz

Ini mungkin tugas pertama saya
yang jauh dari rumah serta orang-orang yang saya sayangi. Tugas ini jugalah
yang pertama untuk saya ditempatkan di suatu daerah dalam waktu lumayan lama.
Walaupun tugas pertama, tetapi saya tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini
untuk menjalankannya dengan baik dan sungguh-sunggu.

Kebetulan,
sejak hari Kamis (31/01) saya resmi bergabung dengan Koran Seputar Indonesia
(Sindo), salasatu medi di Grup MNC. Sejak hari itulah sebuah keputusan di ambil
oleh perusahaan untuk menugaskan saya di sebuah kota di Priangan Timur yaitu
Kota Banjar. Ehmmm, kota yang baru untuk saya. Jangankan hafal dengan isu yang
tengah berkembang disana, nama jalan pun saya belum hafal semuanya. Namun, dari
sinilah saya mulai, dari kota kecil inilah karir saya di salahsatu media
nasional dimulai.

Sebelum
berangkat tugas, tentu saya meminta ijin terlebih dahulu kepada seua orang yang
saya sayangi. Mereka pun seolah berat melepas saya untuk bekerja di kota lain.
Tetapi harus bagaimana lagi, keputusan sudah saya ambil dan resiko pun harus
saya jalani dengan ikhlas dan sabar.

Dengan
sebuah syukuran kecil-kecilan yang menandakan tanda syukur kepata Allah SWT.
Orang tua pun menggelar syukuran pada Sabtu (02/02), mereka berucap syukur
salahsatu anaknya telah lulus dalam menempuh pendidikannya dan saat ini dia
telah diterima dan bekerja di media nasional.

Moment
ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya, hal ini dikarenakan salahsatu
kewajiban saya terhadap orangtua sudah selesai dengan merampungkan semua
prosesi pendidikan yang puncaknya pemasangan sebuah toga yang menandakan saya
lulus. Tetapi dua kebanggaan itu sedikit menjadi beban tersendiri bagi mereka,
hal ini dikarenakan saya harus meninggalkan mereka demi tugas yang saya emban.

Tiba
di Kota Banjar sedikit mengerutkan kening, Kota ini berbeda jauh dengan Kota
Bandung. Dimana lalu lintasnya sudah awut-awutan serta kemacetan dimana-mana
membuat tingkat kestressan semakin meningkat. Namun di kota ini berbeda, lalu
lintasnya sediki lenggang dan pengendaranya pun sopan-sopan. Mereka benar-benar
menghormati peraturan, tidak terlihat pelanggaran yang dilakukan mereka.
Walaupun kota kecil, saya tidak melihat contoh yang buruk seperti tidak memakai
helm atau berkendaraan dengan ugal-ugalan. Contoh lainnya ialah, saat di lampu
merah, batas zebra cross pun tidak
mereka injak. Berbeda dengan di Bandung, para pengendara seolah-olah berlomba
ingin paling terdepan layaknya sebuat start di perlombaan balap motor.

Petugas
kepolisian pun lebih santai dan mereka selalu siaga di posnya yang ada di
setiap perermpatan dan persimpangan jalan. Sungguh kota yang tertib, bagi saya
yang baru menginjaknya dan akan mulai mencari sesuap nasi.

 

Gie, sebuah catatan perjalanan ……

Jadi kangen ma yang dirumah semua…..

Banjar, 4 Febuari 2008

Catatan si Koelitinta (Bobolokotan)

October 27th, 2007 by gie-santacruz

Hari yang Melelahkan

Sekitar pukul 07.15, gw dah keluar rumah menuju Kota Cimahi dengan jadwal ngeliput acara PLN APJ Cimahi. Ditengah jalan redaktur halaman sms untuk ngeliput acara wisudaan, biasalah berhubungan dengan pemasaran ma iklan. Nunggu bentar, sektar 20 menit, bagian iklan datang dan langsung cabut ke STIKES Unjani. Disana ane gw gak lama, langsung cabut menuju acara PLN di Jl Baros, Cimahi. Acara pun berjalan mulus hingga pukul 10.00. Hampir satu jam lebih, ngobrol di Pokja Polresta Cimahi sampe makan soto ayam segala.
Tiba-tiba usai makan dan ngumpul di Pokja, salah satu hape rekan kita, Haszmir bunyi dan mengabarkan ada longsor di Desa Cilutung, Citatah, KBB dengan banyak korban bergelimpang. Otomatis, kita langsung beberes dan cabut dari Pokja menuju TKP. Ditengah jalan sempet ngehubungi yang punya wilayah liputan KBB, sodara Bowo. Dengan cueknya di menjawab, saya lagi di Lembang, itumah urusan wartawan kepolisian. Gendoklah, bagian 86 jadi koordinator, bagian TKP dngan jarak lumayan jauh melimpahkan dengan seenaknya.
Akhinya gw terima, perjalanan pun dimulai dengan nyasar-ngasar, setelah dua kali bolak-balik Citatah-Padalarang, akhirnya ditemukan titik masuk ke arah TKP. Hampir satu jaman lebih, kita menyusuri dan melewati beberapa gunung kapur dengan kontur jalan naik turun. Jangan ditanya tuh jalan bagus, sebagus-bagusnya juga kagak bakalan diaspal. Otomatis si jalan hanya dilapisis batu-batu kerikil ditambah potongan-potongan batu marmer.
Oh ya, kita berangkat hampir sembilan personil ane absen yah, gw sendiri dari Radar Bandung, Feri Tribun Jabar, Hazmir PR, Dikky Gala, Deni PJ TV, Bu Amel RRI, Ono Sindo, Kang Kiki, Kang Aji Elsinta, dan Wahyu TPI.    
Sepanjang jalan kita tanya penduduk tidak ada yang tahu tentang longsor atau bencana lainnya. Tapi mereka hanya bilang ada juga korban tenggelam di bekas galian pasir. Sekitar pukul 13,30, kita nyampe TKP yang memang seperti kolam besar dengan diameter sekitar 25X40 meteran. Setelah ambil data seperlunya, langsung menuju rumah duka sekitar 800 meter dari tkp. Kesialan berikutnya yaitu saat menuju rumah korban yang harus melalui bukit dengan tanah merah, hujan pun turun dengan derasnya. Hampir 20 menit berada di rumah korban. Kita langsung kembali. Tapi hujan yang turun dengan derasnya membuat tanah merah yang tadi dilewati menjadi licin dan terbawa oleh ban motor. Otomatis…baru beberapa meter jalan, ban dan spakbor motor sudah dipenuhi tanah.
Hanya 20 meter menjelang jalan raya, tiba-tiba motor tidak bisa dipake karena tanah membuat laju ban tertahan. Otomatis lagi, si motor didorong rame-rame sama mang Feri dan mang Ono.
Sampe dijalan, kerjaan tambahan pun menanti dengan mncongkel tnah yang menghalangi maju ban. Hampir 20 menit berkutat dengan tanah yang mengganggu. Beres semua, kita kemabali berkumpul dan melanjutkan pulang sekitar pukul 15.00. Dengan baju dan motor penuh dengan tanah merah kita kembali ke Bandung. So pasti sepanjang perjalanan pengendara memandang "aneh" dengan keadaan kita.
Tiba di Bandung pukul 16.00, langsung jemput nyonya di IBCC dan langsung ke rumah Shinta untuk nengok sepupu kita Fathur yang baru masuk RS. Tapi malu dong dengan keadaan motor yang penuh tanaha merah, jadi aja mampir ke tempat pencucian motor. Setelah disemprot, tuh tanaha yang turun banyak banget. Ampir-ampir kit ber2 juga heran dan kaget. Terlebih saat bayar dikasir, tuh motor yang kucel dipenuh tanah Citatah hanya dihargai 5 rebu perak, murah amat kan. beruntng dimasukin ke tempat pencucian motor, gak kebayang kalo cuci sendiri……
Wah benar-benar hari yang melelahkan………

Baleendah, 23;43

Catatan si Koelitinta

Alam yang Semakin Tidak Bersahabat

October 26th, 2007 by gie-santacruz

Waktu terus berlalu, sedetik, semenit, sejam, sehari, seminggu, sebulan hingga bertahun-tahun berlalu, tidak akan berubah dan kembali ke awal   
Yang berlalu, sudahlah berlalu….namun keterlambatan ini bukanlah halangan    
Mungkin Tuhan punya rencana lain yang lebih baik untuk ku   
Ah aku mulai dari nol, setahap demi setahap ke jejaki hingga semuanya usai dan selesai
Setelah itu kehidupan berikutnya pun menantiku….maried….
Jadi kapan atuh beresin SKRIPSI teh sok atuh…….